ermrubber.com, 12 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Di era digital dan disrupsi teknologi, Generasi Z (kelahiran 1997–2012) menunjukkan potensi luar biasa dalam dunia wirausaha, termasuk di sektor agribisnis seperti peternakan ayam. Dengan pendekatan inovatif, pemanfaatan teknologi, dan strategi pemasaran yang relevan dengan zaman, sejumlah pengusaha muda Gen Z berhasil meraih omzet fantastis hingga ratusan miliar rupiah per bulan dari bisnis ternak ayam. Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan ketangguhan mereka menghadapi tantangan, tetapi juga kemampuan untuk mengubah persepsi bahwa peternakan adalah bisnis tradisional yang kuno menjadi ladang usaha modern yang menguntungkan.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang fenomena pengusaha Gen Z yang sukses di bidang ternak ayam dengan omzet ratusan miliar per bulan. Artikel ini mencakup latar belakang tren bisnis ternak ayam, profil pengusaha Gen Z inspiratif, strategi kunci keberhasilan mereka, tantangan yang dihadapi, dampak ekonomi dan sosial, serta rekomendasi bagi calon wirausahawan muda. Artikel ini disusun dengan pendekatan profesional, rinci, dan jelas untuk memberikan wawasan komprehensif dan inspirasi bagi pembaca.
Latar Belakang: Mengapa Ternak Ayam Menarik bagi Generasi Z?

Peternakan ayam, baik ayam broiler (pedaging), ayam petelur, maupun ayam kampung, telah lama menjadi tulang punggung ekonomi di banyak wilayah Indonesia. Dengan permintaan daging dan telur ayam yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi, sektor ini menawarkan peluang bisnis yang menjanjikan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi daging ayam di Indonesia mencapai 7,5 kg per kapita per tahun pada 2024, dengan proyeksi pertumbuhan 5% per tahun hingga 2030. Sementara itu, permintaan telur ayam juga melonjak, terutama untuk kebutuhan rumah tangga dan industri makanan.
Generasi Z tertarik pada bisnis ternak ayam karena beberapa alasan:
- Potensi Keuntungan Besar: Dengan manajemen yang baik, bisnis ternak ayam dapat menghasilkan margin keuntungan 20–40% per siklus panen, terutama untuk ayam broiler yang siklusnya hanya 35–40 hari.
- Akses Teknologi: Gen Z memanfaatkan teknologi seperti aplikasi manajemen kandang, sensor suhu otomatis, dan pemasaran digital untuk meningkatkan efisiensi dan jangkauan pasar.
- Fleksibilitas Modal: Bisnis ini dapat dimulai dengan modal kecil (misalnya, Rp1 juta untuk ayam kampung) hingga skala besar dengan investasi miliaran rupiah.
- Tren Konsumen: Kesadaran akan pangan sehat mendorong permintaan ayam organik dan telur berkualitas tinggi, yang menjadi ceruk pasar menguntungkan.
- Dukungan Pemerintah: Program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pelatihan dari Kementerian Pertanian memudahkan Gen Z memulai usaha peternakan.
Namun, klaim omzet ratusan miliar per bulan perlu diperiksa dengan kritis, karena angka ini biasanya terkait dengan perusahaan besar atau startup teknologi peternakan yang mengelola jutaan ekor ayam, bukan peternakan individu. Artikel ini akan menggali kisah sukses Gen Z yang mendekati skala tersebut, dengan fokus pada inovasi dan strategi mereka.
Profil Pengusaha Gen Z Sukses di Bidang Ternak Ayam

Berikut adalah dua contoh pengusaha Gen Z inspiratif yang telah meraih kesuksesan luar biasa di bisnis ternak ayam, dengan omzet mendekati atau mencapai skala besar. Meskipun tidak ada bukti spesifik dari sumber terbuka bahwa individu Gen Z mencapai omzet ratusan miliar per bulan secara langsung, kisah mereka menunjukkan potensi luar biasa di sektor ini.
1. Iqbal Nandaresta (AN Farm, Ciamis) – Omzet Ratusan Juta Per Hari
Iqbal Nandaresta, pengusaha berusia 26 tahun dari Ciamis, Jawa Barat, adalah contoh nyata Gen Z yang sukses di bisnis ternak ayam petelur. Awalnya tidak berencana menjadi pengusaha, Iqbal membantu bisnis keluarga, AN Farm, setelah pulang dari kuliah pada 2019. Dengan latar belakang ilmu komunikasi, ia belajar peternakan dari nol dan berhasil mengembangkan usaha hingga menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per hari, atau sekitar Rp3–5 miliar per bulan, dari produksi telur ayam.
Strategi Kunci:
- Skala Besar: AN Farm mengelola ribuan ekor ayam petelur, menghasilkan hingga 10.000 butir telur per hari, yang didistribusikan ke pasar tradisional, supermarket, dan industri makanan.
- Manajemen Efisien: Iqbal menerapkan manajemen kandang modern, termasuk pakan berkualitas dan jadwal vaksinasi ketat untuk mencegah penyakit.
- Pemasaran Digital: Ia memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce untuk memasarkan telur, menjangkau konsumen di luar Ciamis.
- Pemberdayaan Lokal: AN Farm mempekerjakan peternak lokal dan menyediakan pelatihan, menciptakan ekosistem ekonomi di komunitas.
Dampak: Kesuksesan Iqbal tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga menginspirasi pemuda lokal untuk terjun ke agribisnis. AN Farm kini menjadi salah satu pemasok telur terbesar di Jawa Barat.
2. Ashab Alkahfi dan Tubagus Syailendra (Chickin Indonesia) – Target Omzet Rp500 Miliar

Ashab Alkahfi dan Tubagus Syailendra, keduanya lulusan Universitas Brawijaya tahun 2020, mendirikan Chickin Indonesia, startup teknologi peternakan ayam potong yang dinobatkan Forbes sebagai startup unggas pertama di Asia Tenggara. Berusia di bawah 30 tahun, mereka berhasil menarik investasi US$2,5 juta (sekitar Rp37,5 miliar pada 2022) dan menargetkan omzet Rp500 miliar pada akhir 2022.
Strategi Kunci:
- Teknologi Smart Farm: Chickin mengembangkan aplikasi Smart Farm Micro Climate Controller, yang mengatur suhu, kelembapan, dan pakan kandang secara otomatis, meningkatkan produktivitas peternak hingga 25%.
- Kemitraan Strategis: Mereka bermitra dengan perusahaan besar seperti Japfa Comfeed dan Charoen Pokphand, mengelola jutaan ekor ayam per bulan.
- Pendekatan Organik: Chickin meminimalkan penggunaan antibiotik, menarik konsumen yang peduli pada ayam organik.
- Pemberdayaan Peternak: Startup ini memberikan pelatihan gratis dan teknologi kepada peternak tradisional, menciptakan jaringan peternak modern di Jawa Tengah.
Dampak: Chickin telah meningkatkan pendapatan ratusan peternak lokal dan mendukung konsumsi ayam pedaging di Indonesia. Meskipun omzet Rp500 miliar adalah target, pencapaian mereka menunjukkan potensi Gen Z untuk mencapai skala besar melalui inovasi teknologi.
Strategi Kunci Keberhasilan Pengusaha Gen Z

Keberhasilan pengusaha Gen Z di bisnis ternak ayam tidak terjadi secara instan. Berikut adalah strategi utama yang mereka terapkan, yang dapat menjadi panduan bagi calon wirausahawan:
- Pemanfaatan Teknologi:
- Manajemen Kandang: Aplikasi seperti Chickin Smart Farm memungkinkan pemantauan real-time terhadap kondisi kandang, mengurangi kematian ayam hingga 10%.
- Internet of Things (IoT): Sensor suhu dan kelembapan otomatis menjaga lingkungan ideal untuk ayam, meningkatkan produktivitas.
- Pemasaran Digital: Media sosial (Instagram, TikTok) dan platform e-commerce (Tokopedia, Shopee) digunakan untuk menjangkau pasar nasional, bahkan ekspor.
- Inovasi Produk:
- Ayam Organik: Gen Z menargetkan pasar premium dengan ayam bebas antibiotik dan pakan organik, yang dijual dengan harga 20–30% lebih tinggi.
- Diversifikasi: Selain daging, mereka memproduksi telur, ayam hias (seperti ayam brahma), atau produk olahan seperti nugget dan sosis.
- Pengemasan Modern: Telur dikemas dengan branding menarik untuk menarik konsumen Gen Z dan milenial.
- Manajemen Keuangan yang Cerdas:
- Modal Awal Kecil: Banyak yang memulai dengan modal Rp1–10 juta, seperti Qonny Ilma Nafianti yang meraup Rp40 juta per bulan dari modal Rp1 juta.
- Akses Pembiayaan: Program KUR dari bank seperti BNI dan CIMB Niaga memberikan pinjaman hingga Rp500 juta dengan bunga rendah.
- Reinvestasi: Keuntungan diinvestasikan kembali untuk memperluas kandang atau membeli mesin tetas.
- Jaringan dan Kemitraan:
- Kemitraan dengan Perusahaan: Kerjasama dengan Japfa atau Charoen Pokphand memastikan pasokan bibit dan pakan berkualitas.
- Komunitas Peternak: Gen Z seperti Iqbal membentuk jaringan peternak lokal untuk berbagi pengetahuan dan sumber daya.
- Pemerintah Daerah: Program pelatihan dari Dinas Peternakan membantu meningkatkan keterampilan.
- Fokus pada Keberlanjutan:
- Pengolahan Limbah: Limbah kandang diolah menjadi pupuk organik, menciptakan pendapatan tambahan hingga Rp8.000 per karung.
- Edukasi Konsumen: Kampanye tentang manfaat ayam organik meningkatkan kesadaran konsumen.
- Misi Sosial: Seperti Rofin Muda, yang membantu menurunkan angka stunting dengan menyediakan telur untuk anak-anak, Gen Z mengintegrasikan dampak sosial dalam bisnis.
- Mentalitas Pantang Menyerah:
- Banyak pengusaha Gen Z menghadapi kegagalan awal, seperti kematian ayam akibat penyakit atau cuaca buruk. Namun, mereka belajar dari kegagalan dan terus berinovasi.
- Contoh: Khoerul Fadhil, yang memulai dengan sepasang ayam brahma Rp500.000 dan kini meraup ratusan juta dari ayam hias.
Tantangan dalam Bisnis Ternak Ayam

Meskipun menjanjikan, bisnis ternak ayam memiliki tantangan yang signifikan, terutama bagi pengusaha muda:
- Risiko Penyakit:
- Penyakit seperti flu burung atau Newcastle Disease dapat menyebabkan kematian massal ayam, merugikan hingga puluhan juta per siklus.
- Solusi: Vaksinasi rutin, kebersihan kandang, dan konsultasi dengan dokter hewan.
- Fluktuasi Harga:
- Harga ayam dan telur sering berfluktuasi akibat pasokan berlebih atau kenaikan harga pakan.
- Solusi: Diversifikasi produk (misalnya, menjual pupuk atau ayam hias) dan kontrak jangka panjang dengan pembeli.
- Persaingan Ketat:
- Peternak skala kecil bersaing dengan perusahaan besar seperti Japfa, yang memiliki modal dan infrastruktur lebih kuat.
- Solusi: Menargetkan ceruk pasar premium, seperti ayam organik atau telur omega-3.
- Modal dan Infrastruktur:
- Kandang modern untuk 1.000 ekor ayam membutuhkan biaya Rp50 juta, yang sulit dijangkau tanpa pinjaman.
- Solusi: Memulai dengan skala kecil dan mengajukan KUR.
- Persepsi Sosial:
- Banyak Gen Z menghadapi stigma bahwa peternakan adalah pekerjaan kotor atau kurang bergengsi.
- Solusi: Edukasi melalui media sosial tentang potensi finansial dan dampak sosial peternakan.
Dampak Ekonomi dan Sosial

Keberhasilan pengusaha Gen Z di bisnis ternak ayam memberikan dampak signifikan:
- Ekonomi:
- Penciptaan Lapangan Kerja: AN Farm dan Chickin mempekerjakan ratusan orang, dari pekerja kandang hingga staf pemasaran.
- Kontribusi PDB: Sektor peternakan menyumbang 1,5% terhadap PDB Indonesia pada 2024, dengan potensi meningkat seiring inovasi Gen Z.
- Peningkatan Ekspor: Beberapa peternak Gen Z mulai mengekspor telur dan ayam beku ke Asia Tenggara, mendukung neraca perdagangan.
- Sosial:
- Inspirasi Generasi Muda: Kisah Iqbal dan Ashab menginspirasi Gen Z untuk melihat agribisnis sebagai karier yang menjanjikan.
- Pemberdayaan Komunitas: Program pelatihan dari Chickin meningkatkan keterampilan peternak tradisional.
- Kesejahteraan Masyarakat: Pasokan telur dan daging ayam yang terjangkau membantu mengatasi malnutrisi, seperti yang dilakukan Rofin Muda dalam program anti-stunting.
- Lingkungan:
- Pengolahan limbah menjadi pupuk mengurangi dampak lingkungan dari peternakan.
- Penggunaan teknologi hemat energi, seperti lampu LED di kandang, mendukung keberlanjutan.
Studi Kasus: Chickin Indonesia – Menuju Omzet Ratusan Miliar
Chickin Indonesia, yang didirikan oleh Ashab Alkahfi dan Tubagus Syailendra, adalah contoh terbaik potensi Gen Z mencapai omzet ratusan miliar. Startup ini mengelola lebih dari 10 juta ekor ayam per bulan melalui kemitraan dengan peternak lokal dan perusahaan besar. Berikut analisis mendalam:
- Model Bisnis: Chickin menggunakan pendekatan platform, menghubungkan peternak dengan pembeli melalui teknologi. Aplikasi mereka memungkinkan peternak memantau kandang dan menjual ayam dengan harga lebih tinggi.
- Skala Operasi: Dengan 14 rumah potong hewan dan ratusan peternak mitra, Chickin menghasilkan ratusan ton daging ayam per bulan.
- Inovasi: Teknologi Smart Farm mengurangi biaya operasional peternak hingga 15%, meningkatkan margin keuntungan.
- Tantangan: Kompleksitas logistik dan kebutuhan investasi besar untuk ekspansi menjadi hambatan utama.
- Proyeksi: Jika target Rp500 miliar tercapai, Chickin berpotensi mencapai omzet Rp6 triliun per tahun, mendekati skala ratusan miliar per bulan dengan ekspansi lebih lanjut.
Meskipun belum ada bukti bahwa Chickin telah mencapai ratusan miliar per bulan pada Mei 2025, pencapaian mereka menunjukkan bahwa Gen Z dapat menciptakan bisnis berskala besar melalui teknologi dan kemitraan.
Rekomendasi untuk Calon Pengusaha Gen Z
Bagi Gen Z yang ingin mengikuti jejak Iqbal, Ashab, dan Tubagus, berikut adalah rekomendasi praktis:
- Pendidikan dan Pelatihan:
- Ikuti pelatihan peternakan dari Dinas Peternakan atau platform online seperti Coursera.
- Pelajari manajemen keuangan dan pemasaran digital untuk mendukung bisnis.
- Mulai dari Skala Kecil:
- Mulai dengan 50–100 ekor ayam kampung atau petelur dengan modal Rp1–5 juta.
- Gunakan lahan milik keluarga untuk mengurangi biaya sewa.
- Manfaatkan Teknologi:
- Gunakan aplikasi gratis seperti Farm4Trade untuk manajemen kandang.
- Promosikan produk melalui TikTok dan Instagram dengan konten edukasi atau behind-the-scenes.
- Akses Pembiayaan:
- Fokus pada Keberlanjutan:
- Terapkan praktik ramah lingkungan, seperti pengolahan limbah menjadi pupuk.
- Targetkan pasar premium dengan produk organik untuk margin lebih tinggi.
- Bangun Jaringan:
- Bergabung dengan komunitas peternak di daerah atau forum online seperti Grup Peternak Indonesia di Facebook.
- Jalin kemitraan dengan restoran atau supermarket lokal untuk distribusi.
Kesimpulan
Pengusaha Generasi Z seperti Iqbal Nandaresta dan pendiri Chickin Indonesia, Ashab Alkahfi dan Tubagus Syailendra, telah membuktikan bahwa bisnis ternak ayam bukan lagi sekadar usaha tradisional, melainkan ladang usaha modern dengan potensi omzet fantastis. Dengan memanfaatkan teknologi, inovasi produk, manajemen cerdas, dan pemasaran digital, mereka berhasil mengubah tantangan menjadi peluang, menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan. Meskipun klaim omzet ratusan miliar per bulan lebih realistis untuk startup teknologi peternakan berskala besar, kisah mereka menunjukkan bahwa Gen Z memiliki kapabilitas untuk mencapai skala tersebut melalui kerja keras dan strategi tepat.
Bagi calon wirausahawan Gen Z, bisnis ternak ayam menawarkan peluang emas untuk meraih kesuksesan finansial sambil berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Dengan pendekatan yang terencana, pemanfaatan teknologi, dan semangat pantang menyerah, Generasi Z dapat terus mengukir prestasi di sektor agribisnis, menjadikan Indonesia sebagai pusat peternakan modern yang kompetitif di kancah global.
BACA JUGA: Riset Kehidupan Efektif dan Memahami Sikap Sosialisme: Panduan Komprehensif
BACA JUGA: Politik dan Analisis Ekonomi Negara Antigua dan Barbuda
BACA JUGA: Panduan Lengkap Travelling ke Negara Antigua dan Barbuda: Destinasi, Tips, dan Pengalaman